Agama - Pertemuan 4

Ketuhanan dalam Islam

1. Fitrah Kebertuhanan dalam diri manusia

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ - ١٧٢

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (Qs. Al A’raf: 172)

2. Perkembangan Pemikiran Manusia tentang Tuhan

  • Dinamisme (kekuatan): Pola kepercayaan manusia terhadap adanya kekuatan yang maha dasat yang berpengaruh dalam kehidupan. Kekuatan tersebut diyakini bersemayam dalam benda-benda.

  • Animisme (roh): Pola kepercayaan masyarakaat terhadap roh gaib yang diyakini memiliki peran besar dalam kehidupan manusia.

  • Politeisme: Pola kepercayaan terhadap dewa-dewa. 

  • Monoteisme: Konsep kepercayaan terhadap satu Tuhan.

3. Pemikiran Umat Islam tentang Tuhan

  • Secara filosofis, eksistensi Tuhan membutuhkan bukti-bukti yang bisa ditampung oleh nalar manusia.
    - Qs. Al-A’raf: 54
    - Qs. Yunus: 3

  • Fazlur Rahman> al-Qur’an tidak “membuktikan” eksistensi Tuhan tapi “menunjukkan” cara mengenal Tuhan melalui alam semesta.

  • Said Nursi dalam Risalah al-Nur membuktikan eksistensi Tuhan dengan empat argumentasi: argumentasi kosmologis, argumentasi ontologis, argumentasi teleologis, argmentasi intuitif.

4. Aliran Ilmu Kalam

Mu’tazilah
Qodariyah
Jabariyah
Ahlussunnah wal jamaah

5. Tauhid

Syekh Ibrahim ibn Muhammad al-Baijuri dalam Tuhfatul Murid ‘ala Jawharatit Tauhid mendefinisikannya sebagai: 

هُوَ عِلْمٌ يقتدر بهِ عَنْ إِثْبَابِ الْعَقَائِدِ الدِّيْنِيَّةِ مُكْتَسَب مِنْ أَدِلَّتِهَا الْيَقِيْنِيَّةِ 

Artinya: “Ilmu Tauhid adalah ilmu yang dengannya mampu menetapkan aqidah-aqidah keagamaan yang diperoleh dari dalil-dalil meyakinkan. Dinamakan ilmu tauhid karena bagian utama ilmu ini adalah mengenai keesaan Allah yang menjadi dasar ajaran Islam.

Tujuan Bertauhid
  • mengenal Allah dan rasul-Nya dengan dalil dalil yang pasti, 
  • menetapkan sesuatu yang wajib bagi Allah—sifat-sifat yang sempurna;
  • menyucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan yang dimiliki makhluk, 
  • membenarkan risalah seluruh rasul-rasul-Nya.
Ilmu Tauhid juga dikenal sebagai:
  • Ilmu Ushuluddin: Karena dijelaskan pokok-pokok  keyakinan dalam islam.
  • Ilmu Kalam: Karena di dalam menjelaskan dan membuktikan keesaan Allah membutuhkan pembicaraan yang benar.

Asmaul Husna

Asmaul Husna merupakan nama-nama Allah yang baik

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah memiliki 99 Nama, yaitu 100 kurang satu, barang siapa memelihara-Nya (membaca setiap hari) maka ia pasti masuk surga” (HR. At Tirmidzi Shohifah 411 Juz 11 Hadits ke 3428 Maktabah Syaamilah)
 وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا.

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaul husna itu.” (QS. Al A'raf: 180)