Agama - Pertemuan 5

Ibadah

Arti Ibadah adalah isim masdar dari kata abada ya’budu: merendahkan diri dan ketundukan (al khudu’ wa tadallul)

Mahdlah : murni atau tak bercampur, syarat dan rukunnya ditentukan oleh syari. ( salat, zakat, puasa, haji, umrah dan lain lain)

Ghairu Mahdlah : Tidak murni atau bercampur , syarat rukunnya tidak ditentukan oleh syari. (semua amalan yang bersifat duniawi seperti semua kegiatan manusia meliputi bekerja di kantor, sawah ladang dll yg tujuannya mencari ridla Allah).

Hakikat Ibadah

  • Quraish Shihab: Ibadah adalah ketaatan yang lahir dari kesadaran bahwa yang ditaati adalah satu kekuatan yang maha dahsyat yang kita tidak ketahui betapa besar dan agung dia, dan betapa hakikatnya di luar kemampuan nalar kita. 

  • Ibnul qoyyim: kecintaan disertai ketundukan itulah ibadah.

  • Syaikhul Islam: ibadah adalah istilah yang digunakan untuk menyebut semua yang dicintai dan diridhoi Allah.

Hukum Ibadah

Fardhu: Fardhu Ain, Fardhu Kifayah/
Sunnah: Sunnah Muakad, Sunnah Ghairu Muakad.

Konsep Tujuan Syariat

Kata Syari’at berasal dari bahasa Arab dan berasal dari kata syari’, secara harfiah berarti jalan yang harus dilalui oleh setiap muslim. 

Syari’at ditetapkan Allah menjadi pedoman hidup setiap muslim, atau the way of life umat Islam untuk menjalankan perintah dan menjauhkan larangan Alllah. 

Bedasarkan pengaruhnya terhadap urusan umat:
  • Dharuriat (primer) = kemaslahatan yang harus dipenuhi, jika tidak akan berakibat pada rusaknya tatanan kehidupan manusia.
  • Haajiyat (sekunder) = kebutuhan untuk menjaga tatanan hidup manusia.
  • Tahsiniat (tersier) = maslahat pelengkap.
Bedasarkan kolektif dan personal:
  • Kulliyah = kemaslahatan yang berpulang pada semua manusia.
  • Juz’iyyah = banyak terdapat dalam muamalah.

5 Konsep Tujuan Syariat

1. Memelihara Agama (Hifz al-Din)

a.   Memelihara agama dalam peringkat daruriyyat, yaitu memelihara dan melaksanakan kewajiban keagamaan yang masuk peringkat primer. Contoh: melaksanakan salat lima waktu adalah kewajiban. Kalau salat itu diabaikan, maka akan terancamlah eksistensi agama.

b.    Memelihara agama dalam peringkat hajiyyat, yaitu melaksanakan ketentuan agama, dengan maksud menghindari kesulitan, contoh: salat jama’ dan shalat qasr bagi orang yang sedang bepergian. Kalau ketentuan ini tidak dilaksanakan maka tidak akan mengancam eksistensi agama, melainkan hanya akan mempersulit bagi orang yang melakukannya

c.  Memelihara agama dalam peringkat tahsiniyyat, yaitu mengikuti petunjuk agama guna menjunjung tinggi martabat manusia, sekaligus melengkapi pelaksanaan kewajiban terhadap Tuhan, contoh: menutup aurat, baik di dalam maupun di luar salat, membersihkan badan, pakaian, dan tempat. 

2. Memelihara Jiwa (Hifz al-Nafs)

a.  Memelihara jiwa dalam peringkat daruriyyat, contoh: memenuhi kebutuhan pokok berupa makanan untuk mempertahankan hidup. Kalau kebutuhan pokok ini diabaikan, maka akan berakibat terancamnya eksistensi jiwa manusia.

b.  Memelihara jiwa dalam peringkat hajiyyat, contoh: diperbolehkan berburu binatang untuk menikmati makanan yang lezat dan halal. Kalau kegiatan ini diabaikan, maka tidak akan mengancam eksistensi manusia,melainkan akan mempersulit hidupnya.

c.   Memelihara jiwa dalam peringkat tahsiniyyat, contoh: diterapkannya tata cara makan dan minum. Kegiatan ini hanya berhubungan dengan kesopanan dan etika, sama sekali tidak akan mengancam eksistensi jiwa manusia, ataupun mempersulit kehidupan sesorang.

3. Memelihara Akal (Hifz al-‘Aql)

a. Memelihara akal dalam peringkat dlaruriyyat, contoh: diharamkan meminum minuman keras. Jika ketentuan ini tidak diindahkan, maka akan berakibat terancamnya eksistensi akal.

b.  Memelihara akal dalam peringkat hajiyyat, contoh: dianjurkannya menuntut ilmu pengetahuan. Sekiranya hal itu dilakukan, maka tidak akan merusak akal, tetapi akan mempersulit diri seseorang, dalam kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan.

c. Memelihara akal dalam peringkat tahsiniyyat, contoh: menghindarkan diri dari menghayal atau mendengarkan sesuatu yang tidak berfaedah. Hal ini erat kaitannya dengan etiket, tidak akan mengancam eksistensi akal secara langsung.

4. Memelihara Keturunan (Hifz al-Nasl)

a.  Memelihara keturunan dalam peringkat dlaruriyyat, contoh: disyari’atkannya nikah dan dilarangnya berzina. Kalau kegiatan ini diabaikan, maka eksistensi keturunan akan terancam.

b.  Memelihara keturunan dalam perringkat hajiyyat, contoh: ditetapkannya ketentuan menyebutkan mahar bagi suami pada waktu akad nikah dan diberikan hak talaq padanya. Jika mahar itu tidak disebutkan pada waktu akad, maka suami akan mengalami kesulitan, karena ia harus membayar mahar misl. Sedangkan dalam kasus talaq, suami akan mengalami kesulitan, jika ia tidak menggunakan hak talaqnya, padahal situasi rumah tangganya tidak harmonis.

c.  Memelihara keturunan dalam peringkat tahsiniyyat, contoh: disyari’atkan khitbah atau walimah dalam perkawinan. Hal ini dilakukan dalam rangka melengkapi kegiatan perkawinan. Jika ini diabaikan, maka tidak akan mengancam eksistensi keturunan, dan tidak pula mempersulit orang yang melakukan perkawinan.

5. Memelihara Harta (Hifz al-Mal)

a.  Memelihara harta dalam peringkat dlaruriyyat, contoh: syari’at tentang tata cara pemilikan harta dan larangan mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak sah. Apabila aturan itu dilanggar, maka berakibat terancamnya eksistensi harta.

b.    Memelihara harta dalam peringkat hajiyyat, contoh: syari’at tentang jual beli dengan cara salam. Apabila cara ini tidak dipakai, maka tidak akan mengancam eksistensi harta, melainkan akan mempersulit orang yang memerlukan modal.

c. Memelihara harta dalam peringkat tahsiniyyat, contoh: ketentuan tentang menghindarkan diri dari pengecohan atau penipuan. Hal ini erat kaitannya dengan etika bermu’ammalah atau etika bisnis. Hal ini juga akan berpengaruh kepada kepada sah tidaknya jual beli itu, sebab peringkat yang ketiga ini juga merupakan syarat adanya peringkat yang kedua dan pertama.

Aspek Ta’abbudi dan Ta’aqquli dalam beragama 

Ta’abbudi; yaitu ibadah yang tidak ada alasannya kenapa dilakukan, seperti shalat mahgrib dikerjakan dengan tiga rakaat, karena hal itu sudah ketetapan dari Allah bahwa shalat maghrib dilaksanakan tiga rakaat.

Ta’aqquli; yaitu ibadah yang ada sebab dan alasannya, seperti membersihkan anggota badan dari najis, karena jika terdapat najis pada anggota badan seseorang maka ia harus membersihkannya terlebih dahulu jika hendak menjalankan shalat.